Hari ini hari yang sangat membuatku ingin sekali mengakhiri hidup. Bagaimana tidak?! Istriku.. dan Anakku.. Semuanya meninggalkanku sendirian di dunia ini. Aku masih menangis terisak di dalam kamar dan merenungi kematian anak dan istriku.
Keesokan harinya, aku harus melanjutkan hidupku walaupun aku sudah kehilangan orang- orang di sekitarku. Tapi aku tidak sanggup menjalaninya.. Apa yang harus kulakukan. 4 hari berlalu... Di pagi hari yang cerah, tiba- tiba kakiku membawaku berlari ke arah makam Doni, anakku. Saat tiba di depan makan itu, aku.. dengan tanganku.. menggali- gali makam itu dan mencari tulang belulang milik anakku. Entah apa yang membuatku berani membongkar makam anakku dan memunguti tulang anakku. Aku pun tidak sadar apa yang kulakukan. Setelah kudapati tulang anakku, aku mencucinya dengan air tulang anakku bersih dari sisa - sisa tanah kuburan. Aku pulang dan terus memeganggi tulang itu dengan kasih seakan- akan aku sedang mengasihi anakku. Aku bagaikan orang yang tidak waras. Setiap hari aku tidur, makan, bahkan berbicara dengan tulang itu. Tulang itu sangat berharga bagiku.
Pagi- pagi sekali, aku berjualan obat herbal di jalanan. Karena sudah lama tidak berjualan, para pelangganku lari pada pedagang lain. Daganganku sepi :(
Saat sedang membereskan barang untuk pulang, sesosok pria berdiri di depan daganganku. Ia menyanyakan tulang yang kubawa. "Bolehkah aku meminjam tulang itu pak?" tanya pria itu. Sesaat aku bingung dan aku juga tidak mau tulang anakku di pinjam oleh orang asing. Tanpa berpikir panjang pria tadi menyodorkan uang Lima puluh ribu rupiah dan segera mengambil tulang milikku dan berkata "Aku hanya meminjamnya sebentar!" Aku tidak dapat mengejarnya karena pria tadi sudah lari. Tapi aku senang walaupun daganganku tidak laku tetapi aku mendapat uang lima puluh ribu rupiah. "Lumayan bisa buat makan 3 hari" gumamku.
Beberapa saat kemudian, pria yang tadi datang dan mengembalikan tulang milikku. "Terima kasih Pak" katanya. Aku pun tidak berkata apa- apa dan sesegara untuk kembali ke rumah.
Satu minggu telah berlalu. Keseharianku hanya diisi kesendirian dan kesedihan dengan tulang anakku yang selalu kubawa. Saat aku akan pergi berjualan seperti biasa, di depan rumahku pria yang satu minggu lalu meminjam tulang anakku datang. Aku terkejut. "Ada apa kamu ke sini? Dari mana kamu tahu aku tinggal di sini?" Tanyaku agak sinis. "Selamat pagi Pak pedagang. Tidak penting saya tahu dari mana anda tinggal di sini. Kedatangan saya kemari saya ingin meminjam tulang anak bapak lagi untuk saya siram dengan air" Jawab pria itu. "Jadi seminggu yang lalu, kamu meminjam tulang anakku untuk di siram dengan air??Untuk apa?" tanyaku sedikit heran "Ternyata air bekas bilasan tulang anak bapak membuat dagangan saya laku pak! Saya berjualan Soto ayam dan saya mencampurkan air bekas bilasan tulang itu ke soto saya. Pelanggan saya berkata soto saya sangat nikmat!!" kata pria itu senang. Aku sangat terkejut sekaligus heran. Bagaimana mungkin air bekas bilasan tulang bisa membuat soto menjadi enak? "Ijinkan saya meminjam tulang itu dan membilasnya pak! Saya akan membayar 3 kali lipat dari yang lalu!" tawar pria itu. Aku berpikir.. "Oke kamu boleh meminjam tulang anakku!" Pria itu terlihart senang dan sebanyak mungkin membilas tulang tersebut dengan air. Setelah itu pria tersebut pergi dengan senang :D
Ternyata berita tentang kehebatan tulang itu tersebar sampai kemana - mana. Setiap hari banyak orang datang dan rela mengantri berjam- jam hanya untuk mendapat air bekas bilasan tulang anakku. Suatu hari aku tidak kuat lagi melayani orang - orang yang datang ke sini. Aku mengupah 2 orang pekerja untuk membantuku melayani jasa bilas tulang. Sekarang kehidupanku berubah. Aku bukanlah orang yang tidak bisa membeli 2 nasi bungkus lagi. Rumahku menjadi mewah. Aku tidak perlu bekerja menjadi pedagang obat kaki lima. Ternyata anakku banyak membantuku walaupun ia sudah tidak ada di dunia yang sama denganku. Tulangnya membuat kehidupanku menjadi layak. Aku akan terus menjaga tulang anakku sampai aku mati, janjiku..
Suatu ketika, tulang anakku hilang! Aku sangat sedih dan bingung. "Di mana aku harus mencari tulang itu?" ocehku. Saking sedihnya, aku jatuh sakit dan hampir sekarat. Tapi, tulang anakku yang hilang di temukan oleh pegawaiku ada di sebuah rumah tua. Sepertinya ada yang mencoba mencuri tulang itu tetapi anakku tidak mau aku menderita :')
Sejak saat itu aku mulai berhati- hati menjaga tulang anakku. Semakin lama semakin banyak saja orang yang mengantri untuk mendapat bilasan tulang anakku. Aku pun semakin tua dan sudah tidak kuat lagi melayani semua itu.
Beberapa bulan kemudian. tersiar kabar bahwa pemilik tulang belulang sakti telah meninggal. Tetapi orang- orang yang mengantri tidak jua pergi dari sana. Mereka malah berpikir bahwa tulang belulang pemiliknya akan lebih sakti di bandingkan tulang belulang anaknya.
-->




0 komentar:
Posting Komentar