



Pagi itu, seperti biasa aktivitasku adalah bertani. Aku seorang petani yang menggarap sawah milik seorang rentenir. Walaupun sekolahku hanya tamat pada bangku sekolah dasar, tapi aku sangat senang menjalani kehidupanku menjadi seorang petani. Biarpun aku hidup sederhana, aku memiliki anak dan juga istri yang membuatku merasa kaya akan kebahagiaan.
Suatu hari aku bermimpi menjadi orang yang kaya raya. Aku memiliki rumah yang mewah dan megah. Pakaianku tidak kumal. Tetapi aku menjadi orang yang sangat pelit dan penuh dengan kekhawatiran. Aku bukan lagi seorang petani yang bekerja di sawah, Aku menjadi pemilik sawah yang mengupah orang menanami sawahku. Tapi aku merasa hidupku tidak senang. Aku berharap mimpi itu tidak menjadi kenyataan. Walaupun aku miskin, aku senang dan aku tidak mau menjadi seseorang yang kaya tetapi tidak hidup dalam kebahagiaan. Bagiku harta bisa di cari dengan berbagai usaha, tetapi kebahagiaan dan kasih tidak dapat dibeli dengan harta :)
Suatu ketika anakku jatuh sakit. Aku tidak punya biaya untuk mengobati anakku. "Apa yang harus kulakukan sekarang? Aku hanya petani upahan yang tidak punya cukup uang untuk mengobati anakku yang sakit" Aku terus berpikir bagaimana caranya untuk mendapatkan uang untuk pengobatan anakku.
Aku berpikir untuk meminjam uang kepada pemilik sawah yang kukerjakan setiap hari. "Apa mungkin dia akan memberikan pinjaman padaku?" aku bertanya dalam hati. Tapi aku tidak boleh berpikir negatif sebelum semuanya terbukti. Aku segera pergi ke rumah Pa Rahmad. Ia adalah pemilik sawah itu.
Saat sampai di sana, penjaga rumah yang disewanya mencegatku di pagar. "Mau apa kau ke sini Pa Tua?" kata seorang penjaga rumah. "Aku ingin bertemu dengan Pa Rahmad. Adakah dia di dalam?" Tanyaku. "Orang seperti kau mau bertemu tuanku?! Hahahaha.. "Para penjaga itu malah menertawaiku. "Iya aku ingin menemuinya. Memangnya kenapa kalau aku menemui tuanmu?" tanyaku. Tiba- tiba di tengah- tengah percakapanku, seorang pria bertubuh tinggi dengan tatto di badannya keluar dari rumah megah itu. "Ada apa ini ribut - ribut "Kata pria itu. "Ini Tuan, ada seorang kumal datang ingin menemui tuan" kata penjaganya. Setelah mendengar itu pria tadi langsung menoleh padaku dan melihatku dari ujung rambut sampai kaki. "Mau apa ke sini?" tanyanya to the point. "Aku ingin me.. meminjam uang tuan, untuk berobat anak saya" jawabku sedikit tergagap."Apa kau memiliki jaminan untuk mengembalikan uang itu? Jika tidak pergilah dari sini!" Katanyanya sedikit tegas. "Tuan, saya hanya orang yang tidak punya apa- apa.. Untuk makan saja saya seadanya. Bagaimana bisa saya memiliki sesuatu yang berharga untuk di jaminkan" Jawabku memelas. Pria itu berpikir sejenak lalu berkata "Baik aku akan meminjamkanmu uang untuk anakmu itu, tapi uang itu tidak gratis. Ada syaratnya!" Pria itu mengajukan persyaratan "Syarat tuan? Apa itu?" "Jika kamu tidak sanggup membayar dalam waktu 1 minggu, kamu harus menyerahkan anak gadismu untuk kujadikan istriku! Bagaimana setuju?" Awalnya aku sangat marah dan tidak menyetujui itu, tapi saat kuingat anakku sakit yang parah aku menjadi yakin kalau aku bisa mengembalikan uang pinjamanku. "Baik, aku akan menjaminkan anakku untuk kau jadikan istri bila aku tidak bisa membayar pinjamanku dalam waktu 1 minggu"
Saat itu juga. Pria itu menyuruh pengawalnya mengambilkan sejumlah uang untukku dan memberikannya kepadaku. "Ini! Kuberikan kau Rp 200.000,-" katanya. "Terima kasih tuan" kataku sambil tersenyum senang. Sekejap aku melupakan janjiku kepada dia bahwa aku menjaminkan anakku sendiri kepadanya. Betapa tega aku :'(
Sesegera mungkin kubawa anakku ke puskesmas dekat rumahku karena di pedesaan seperti ini tidak ada rumah sakit. Setelah anakku sembuh, aku harus bekerja keras untuk mengembalikan uang pinjamanku waktu itu. "Aku tidak bisa mengandalkan pekerjaanku yang hanya menjadi petani untuk membayar utangku itu. Aku harus mencari pekerjaan yang lain juga." Aku menyusuri kampung - kampung untuk mencari lowongan pekerjaan di ladang, hutan, warung- warung, dan sebagainya.
Untungnya aku diterima oleh peemilik ladang dan aku menjadi bekerja menjadi peladang juga. Aku senang sekali aku bisa mengumpulkan uang agar lebih cepat terkumpul. Tidak terasa sudah hari ke 5 waktu mengembalikan uang pinjamanku itu. Sedangkan.. Uang yang kukumpulkan saja belum setengahnya terkumpul. Aku sangat kecewa dan sedih karena kemungkinan aku harus menyerahkan anakku untuk dijadikan istri oleh Pa Rahmad :(
Waktu itu pun tiba..
Pa Ahmad dan pengawal utusannya datang kerumahku untuk menagih uang yang kupinjam seminggu lalu. Aku tidak tau apa yang harus kulakukan. Apa aku harus kabur atau tetap diam dan pasrah dengan keadaan ini. Aku tidak berdaya saat anakku di bawa oleh Pa Rahmad ke dalam mobilnya. Padahal aku melihat sendiri anakku meronta- ronta dan menangis ketika ia akan di bawa pergi.
Lanjut nanti ya.. wkakakkakakak
-->










































